Rabu, 08 Juni 2011

Lamunanku Tentang Lamunan Mereka Tentang Anak Cucu Ibu Pertiwi

Selepas shalat magrib petang hari ini, aku berjalan agak gontai menuju ruang makan. Aku memang agak kurang selera makan beberapa hari ini. Tentu bukan karena facebook apalagi tukang krupuk. Aku buka  tudung yang menutupi hidangan, kuambil piring, sendok dan makanan yang ada (kalau tidak ada  apa yang mau diambil kan??? aneh juga...) untuk aku makan. Sedikit sajalah, tak usah banyak-banyak.

Kuhidupkan tivi, berita lagi seperti biasa, itulah acara yang aku suka, selain olah raga dan  tentunya film-film eksyen berkualitas dari manca negara yang benar-benar menghibur. Aku tak suka sinetron, apalagi sinetron-sinetron bikinan negeri sendiri yang kebanyakan membodohi dan membuat masyarakat hanya bermimpi. Capek deeeh..... What ever, setiap orang memiliki selera masing-masing. Tidak masalah buatku.

Melihat berita..... Hmmm, tentang mantan petinggi partai yang (disuruh?) melarikan diri ke Singapura  katanya sih hendak berobat, semoga saja cepat sembuh, terutama sakit di jiwanya itu...

Aku jadi melamun........
Korupsi lagi, korupsi lagi. Padahal kalau dipikir, berapa sih biaya untuk makan, tempat tinggal, anak sekolah, jalan-jalan dan lain sebagainya itu??? Mengapa mereka-mereka yang berkuasa (bahkan yang tidak berkuasa saja pinter maling) itu harus korupsi gila-gilaan? Bukankah kalau mereka mati pun tanah yang akan ditinggali cuma seukuran kasur busa keras yang biasa dipakai tidur oleh pembantu mereka? Lalu, keyakinan macam mana yang dianut oleh orang-orang itu? Bukankah setiap agama mengajarkan bahwa MALING ITU DOSA !!! Waktu SD mereka diajarkan apa ya?

Masak sih mereka-mereka yang hebat itu tak mengerti bahwa praktek korupsi yang mereka tekuni dan seriusi itu hanya akan menghancurkan negeri ini, menghancurkan masa depan anak cucu mereka sendiri.

Juga ada cerita dari layar kaca itu tentang istri seorang mantan "penegak hukum", wuih....., bayangkan.....,  PENEGAK HUKUM gitu looohhh..... Yang katanya menderita sakit "lupa". Waduh, seumur-umur baru kali ini dengar ada penyakit lupa... Menurut hematku dia pasti menderita sakit lupa daratan, sebab kabarnya terbang melulu ke negeri Singapura, Thailand, Kamboja, Vietnam, atau jangan-jangan sekarang lagi di Kutub Utara, karena lupa beli tiketnya tujuan mana... Hmmmm, ada-ada saja ya?

Katanya sih dia sudah jadi tersangka kasus cek perjalanan. Ngomong-ngomong tentang cek perjalanan, mungkin karena ini pula dia sekarang jadi hobi jalan-jalan ke luar negeri ya brur??? Kembali ke Tukul, eh, pembahasan..... Dengar-dengar juga KPK sudah mengeluarkan red notice (ceileee keren banget, apaan tu  yak mpok?) agar interpol dapat menangkapnya di mana saja di luar negeri. Paspornya juga  dicabut (hmmm, singkong kali ye dicabut?)...

O, iya suaminya kan ada di Indonesia ya? kabarnya juga jadi anggota dewan yang terhormat lagi... Eh, kenapa tidak dia saja yang ditahan dengan tuduhan menyembunyikan pelaku kejahatan? Bukankah itu diberlakukan terhadap pasangan tersangka maling ayam, atau bahkan teroris sekalipun? Kan, katanya semua sama dimata hukum... Lagi pula bukankah pasangannya itu mantan penegak hukum?? Presiden tak berani yaaa??? Hayooo ngaku saja.....

Sulit memang kalau kita memiliki pemimpin yang tidak memiliki keberanian. Dari dulu aku tahu tentang itu, makanya aku memilih capres lawannya tempo hari, yang sigap, tangkas, cerdas, cepat,  tepat dan berani... Sayang, rakyat Indonesia lebih melihat citra dibandingkan kinerja (pengaruh sinetron barangkali  ya? hihihi.....). Anyway, tak masalah juga, karena inilah demokrasi. Aku juga mengakui dan menghargainya sebagai ummara (pemimpin). Walaupun jadi pemimpin yang sangat mengecewakan.....

Aku hanya melamun tentang anak cucuku, yang akan menerima keadaan negara ini yang bakal porak poranda. Hancur di segala lini karena korupsi dan juga friksi di antara anak negeri itu sendiri.  Aku berpikir, kasihan mereka nanti. Janganlah sampai terjadi, mewarisi negeri yang  tercerai berai karena ego komunal. Sudah sering kita saksikan, kekerasan karena latar belakang perbedaan, baik suku, ras, maupun agama. Saat sekarang ini rasanya lebih mudah terpercik bara api yang sangat mudah membesar di tataran lapis horizontal. Pancasila pun sudah hilang dari ingatan.....

Infrastruktur kita begitu juga, makin hancur lebur berantakan (lagi-lagi karena korupsi yang menggila). Kalau dulu (sebelum reformasi(?)) lapisan hotmix jalan raya yang dibangun bisa berumur lebih dari 10 tahun, tanpa  kerusakan berarti. Saat ini, jalanan baru, hotmix yang sama hanya berumur kurang dari setahun.  Selanjutnya berubah jadi kubangan kerbau yang sangat mengerikan dan membahayakan pengguna jalan, termasuk  koruptor itu sendiri! Bahkan di tengah jalan tol pun kini bertebaran "kolam-kolam ikan" dengan manisnya... Cocok buat para mancing mania ! Asyik........

Selesai makan aku kembalikan piring ke dapur dan menuju komputer yang segera kunyalakan. Lumayan, cari kabar dari teman yang sedang fesbukan.....

Sambil menunggu loading yang agak lama (maklum PC sudah 3 tahun), aku memandang jejeran buku-buku yang rapi berbaris di raknya. Aku pandangi barisan buku-buku yang bertuliskan UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA yang bertumpuk, ada pula KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA beserta ACARANYA disana, buku-buku tentang agama, novel-novel (kebanyakan tentang cinta), majalah-majalah berbagai macam rupa juga ada.  Lebih banyak lagi jumlahnya adalah buku-buku tentang TEKNIK SIPIL yang pernah aku pelajari dulu  semasa kuliah.

Aku sebenarnya bersedih...(tapi nggak sampai nangis kok). Begitu bagus pasal-pasal di UU RI itu  dibuat, tapi dengan mudahnya dilanggar justru oleh mereka-mereka yang membuat dan -mestinya- menjalankan serta mengawalnya.....

Contoh sedikit saja ya?
Di antaranya adalah UU No.31 tahun 1999 tentang PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI..... Lhooo..........  Kok malah mereka-mereka yang membuatnya di DPR sana yang menghuni jeruji besi karena tuduhan  pasal yang dulu mereka buat. Hebat bukan??? hehehe.....

Begitu juga dengan UU No. 22 tahun 2009 tentang LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN... Malah mereka sendiri yang kerap melanggarnya. Seperti kejadian kemarin dimana para pejabat yang (katanya) terhormat itu -dengan voorijder- seenaknya saja menggunakan bahu jalan di di tol dalam kota. Yah, Indonesia......

Sama halnya dengan buku-buku TEKNIK yang aku punya. Kok rasanya semua pembangunan ini tidak ada yang sesuai dengan standar mutu yang ada disana? Jalanan baru 3 bulan  sudah hancur... Gedung sekolah yang baru dibangun, ambruk menimpa anak didik yang sedang belajar... Jembatan yang runtuh sebelum diresmikan... Luar biasa penyimpangan-penyimpangan itu. Semuanya atas nama keserakahan!

Percuma rasanya buku-buku, aturan-aturan, pedoman-pedoman itu ada..... Rasanya ingin sekali dijual kiloan saja di tukang loak yang biasa lewat memborong koran-koran bekasku. Tapi kan sayang, hehehe..............
Sebenarnya masih banyak lagi yang bisa dituliskan disini..... Capek kalau nulis semuanya, nggak dibayar pula, hehehe......... :-p

Undang-undang dan segala peraturan di negeri ini sepertinya dibuat memang untuk dilanggar. Bahkan, oleh mereka yang membuatnya sendiri. Bener-bener dodol..... Eh, kalau dodol beneran juga masih mending, bisa dimakan, enak..., ya nggak???

Menarik sekali tulisan seorang sahabatku yang saat ini sudah bergelar DR, H, SH, MH (banyak banget Boy...),
"Quide leges sine moribus" (apalah artinya Undang Undang kalau tdk disertai moralitas).
Dan juga...
" Fiat justitia ruat coelum " (keadilan hrs ditegakkan meskipun langit akan runtuh).

Sungguh indah sekali ungkapan yang ia tuliskan di halaman facebooknya. Aku tahu sahabat baikku yang satu ini, termasuk salah seorang yang konsisten dan memiliki idealisme yang tinggi terhadap penegakan hukum di negeri ini. Satu di antara seribu jumlahnya di negeri ini... Aku mengenalnya dengan baik sejak kami masih sama-sama studi s1 di Universitas Indonesia dulu... Aku hanya bisa memberinya dukungan moral dan semangat untuk tetap berada di jalannya, meski untuk itu (mungkin) tidak bisa membuatnya SUPER KAYA RAYA, seperti mereka-mereka yang terlena dengan pangkat dan jabatan, sehingga tak memiliki malu untuk melacurkannya demi yang namanya UANG.
Maju terus Boy Nurdin, jangan pernah tergoda dan kalah dalam idealismemu.....!

Aku melihat ke arah jam dinding, sudah pukul 9 malam sekarang. Cukup lama juga aku melamun, tentang lamunan mereka-mereka, anak negeri yang -durhaka- menghancurkan ibu pertiwi ini. Apa yang mereka pikirkan tentang kondisi negeri ini dimasa datang yang menjadi tempat bernafas bagi anak cucu mereka sendiri.....?

Aku bukan (belum?) siapa-siapa, untuk membantu menumpas tikus-tikus got penggerogot harta dan masa depan ibu pertiwi ini. Aku -saat ini- hanya bisa berdoa, semoga pemimpin kita bisa tersadar dan membawa bangsa dan negara yang akan diwarisi kepada anak cucu kita ke dalam kondisi yang  bersih dari moral korupsi yang jadi "wajar" seperti sekarang ini.  Semoga semua pihak menyadari bahwa korupsi adalah musuh nomor satu dari KEMAKMURAN negeri.....

Tak ada satupun negara di dunia ini, menjadi maju jika dibangun di atas pilar rapuh yang bernama KORUPSI..... HUKUM harus jadi PANGLIMA di negeri ini, seperti ungkapan sahabatku tadi:
KEADILAH HARUS DITEGAKKAN MESKIPUN LANGIT AKAN RUNTUH !

HIDUPLAH INDONESIA RAYA.........


Wassalam,
AAngAdhA



2 komentar:

  1. Bagus sekali tulisanmu sahabatku Adha,..ternyata bakat & potensi serta jiwa idealisme serta integritasmu terhadap negeri ini tetap sama ketika aku mengenalmu pertama kali semasa kuliah S1 dulu. Dirimu tetap dpt menjaganya hingga kini. Aku salut !! cobalah kirim artikelmu ini ke kompas atau media2 cetak lainnya, agar dpt dibaca oleh masyarakat luas, agar lbh byk lg manfaatnya,..sabar ya sahabatku,.org pintar n benar di negeri ini memang jarang dipakai n tersingkir,..tetapi yakinlah negeri tetap membutuhkan org2 jujur n pintar serta berilmu,..maju terus sahabatku !!

    BalasHapus
  2. Terimakasih sahabatku, saudaraku DR.H.Boy Nurdin, SH. MH... Apresiasinya sungguh membuat aku merasa tersanjung... Aku masih terus belajar dan berusaha, jadi sepertinya belumlah kalau sampai taraf yang memenuhi syarat tulisan sekaliber harian kompas dkk... Lama nian kita tak jumpa... Selamat berjuang juga ya friend... Maju terus & jangan pernah menyerah !!

    BalasHapus